SKU.GEUNTA, Bacaan orang dewasa !
Hr.Serambi Indonesia, Koran kebanggaan masyarakat Aceh klik http://www.serambinews.com
Mau dapat income dollar ? Klik http://www.imboxdollars.com/?r=adiyus
Gaji dollar dari email, free...! klik http://www1.sendmoreinfo.com/id/3092833
Selasa, 24 Juli 2007
Minggu, 08 Juli 2007
" TERRJEBAK PERMAINAN BIRAHI PUTRI MAMBANG "
Semula ini hanya sebuah prosesi ritual ziarah biasa yang sudah lazim dilakukan orang di daerahku kesebuah Makam Keramat.Tak disangka, awal mulanya Aku terlibat Skandal Birahi Memabukkan di alam Siluman Putri Mambang. Mengairahkan, Namun sebuah petaka tak bisa kuelakkan................!!!! Mungkinkan ini sebuah kutukan ???
Masih teringat saat itu, tahun 1999. Bermula saat Aku, ibu , ibu mertuaku serta istriku melakukan ziarah ke Makam Keramat Putri Mambang.Makam tua seorang putri keturunan raja aceh ini terletak di sebuah desa dalam kecamatan Seunagan, kabupaten Nagan Raya. Dimana prosesi ziarah ini adalah sebuah hal yang wajib dilakukan oleh suami istri yang habis melahirkan. Ziarah ini dilakukan pada hari ke 47 setelah bersalin atau juga disebut dengan istilah turun anak atau injak tanah pertama bagi sijabang bayi. Kebetulan, istriku baru melahirkan anak pertama. Tentu saja saya selaku ayah si jabang bayi tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak pertamaku. Meski sedikit berat hati, aku menuruti kemauan ibu yang rada aneh itu.
Aku pernah dengar tentang keangkerang dari kelompok putri mambang itu. Hal ini aku dengar dari nenek,dan nenek waktu itu langsung membuktikan sendiri saat ziarah dulu. Dalam tradisi kami orang Aceh,khususnya Daerah Nagan Raya yang masih kuat adat istiadat/resam budayanya. Untuk mertua yang menantunya hamil pertama,diadakan acara antar nasi (intat bu). Hal ini dilakukan menjelang usia 6-7 bulan usia kehamilan. Dimana untuk ini ibu mertua membuat dandang lauk pauk 7 lapis dan dalung nasi serta dandang berisi aneka buah buahan. Disamping itu,ditambah lagi rantang-rantang bawaan para kerabatnya. Sedangkan untuk mengatar kerumah besan/menantunya itu diajaklah orang-orang kampung. Bisa dibayangkan betapa semaraknya acara resam antar nasi ini.
Untuk prosesi selamatannya, diantarlah barang 2-4 pasang rantang tadi yang berisi lauk pauk kerumah leluhur putri mambang. Dirumah tua bermotif aceh itu hanya ditempati oleh ibunda putri mambang seorang diri, nasi tersebut dibuat kenduri untuk menjamu anak-anak yatim piatu. Nah,saat itulah nenek mendengar hal-hal yang ganjil. Saat itu, nenek sampai kerumah itu sudah sore,kira-kira jam ; 4.50 Wib. Saat itu didaerah kami belum ada listrik. Sehingga kalo malam suasana menjadi gelap gulita hanya ada penerangan dari lampu dinding/teplok. Usai acara jamuan anak yatim, hari sudah malam. Nenek tidak segera pulang, ia asyik ngobrol dengan ibunda putri mambang.
Rumah pangung besar milik raja Nagan itu, sangat luas. Terdapat bilik bilik besar dan aula. Salah satunya ada bilik putri mambang yang tak boleh dimasuki siapapun selain oleh ibunya. Kamar itu harus dihias seperti kamar pengantin dan harus selalu bersih, jika malam hari harus dinyalakan sebuah lampu teplok didalamnya. Hal ini tetap dilakukan oleh ibunya demi kecintaan pada anak putrinya meski ia sudah tidak lagi hidup dialam nyata.
Tiba-tiba dari dalam kamar itu terdengar suara gadis-gadis ramai sekali sedang bercengkerama. Sesekali terdengar suara tawa cekikikan. Nenek merasa takut dan bulu kuduknya berdiri, hal ini diketahui oleh ibu putri mambang. “ Cut kak nggak usah takut,itulah anak saya dan para pengikutnya sudah pulang. Hal ini sudah biasa dirumah ini sejak puluhan tahun lalu “ ujar ibu putri mambang menenangkan nenek yang sedari tadi nampak gugup. “ Cut Nyak, apa hal ini berlaku setiap malam ? “ tanya neneku. “ Iya, makanya aku selalu menyalakan lampu tiap malam dikamarnya. Karena putri akan selalu pulang dengan dayang dayang nya.” Sahutnya.
“ kalo tidak dinyalakan,gimana ? “ tanya nenek lagi.
“ Ada sekali saya lupa, saat itu saya telat pulang dari acara kenduri dirumah saudara yang jauh. Putri mengobrak abrik seluruh ini rumah dan memukuli adeknya hingga pingsan ! “
“ Terus, apa yang mereka lakukan dikamar itu,Cut Nyak ? “ tanya nenek.
“ Apa lagi kalo bukan mengadu birahi,setelah seharian terbang keliling daerah untuk mencari korbannya. Dasar anak sudah mrnjadi setan ! “ jawab CutNyak dengan nada marah.
Memang, soal adanya anak-anak bayi yang dijadikan koeban sudah sering kali terjadi. Disamping itu, putri mambang juga suka mengambil korban dari ibu-ibu muda yang mau melahirkan. Diantaranya ada yang dilepaskan setelah adanya transaksi penukaran tumbal dengan ayam hitam putih, dan lainnya sesuai kesepakatan pada saat trance ketubuh mediumnya.
Pembaca budiman, sekarang kita kembali ke inti dari kisah yang saya alami. Setelah selesai prosesi ritual injak tanah pertama bayi saya di tanah makam putri mambang itu. Setelah usai,ibu,istriku dan ibu mertua langsung kembali kerumah ibu CutNyak. Sedangkan aku tinggal sendiri dikomplek makam. Aku bermaksud untuk sholat hajat dan wirid di Makam itu. Setelah usai shalat terus aku wirid. Saat wirid itulah, tanah makam terasa bergetar hebat. Aku berpikir ini pasti sedang gempa bumi. Aku tak beranjak dari tempat wirid dan terus wirid. Bau bunga melati semakin mencokol hidung, namun aku tetap tak bergeming. Tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita “ Apa yang kamu lakukan disini....? “ tanya suara tanpa wujud.
“ Maafkan saya, saya hanya melengkapi ritual turun anak saya dengan berdoa disini ! “ jawabku.
“ Sudah cukup zikirnya, jika kau ingin menyempurnakan prosesinya. Datanglah kerumahku nanti malam. Ingat tak boleh ada yang tahu tentang ini,termasuk istrimu ! ‘ ujar suara itu lagi. Karena penasaran dengan wujud dari Putri Mambang yang sudah melegenda dan ditakuti masyarakat didaerah Barat Selatan ini akupun menyanggupinya.
“ Baiklah, saya akan datang ! “ ujarku kemudian.
Malam harinya,setelah shalat isya. Aku bergegas kerumah tua milik almarhumah putri. Pada ibunya itu aku berbohong ingin melakukan ritual semedi. Hal ini aku lakukan agar si ibu mengizinkan aku masuk dalam kamar putri yang sakral itu. Benar saja, mendengar keinginanku itu. Si ibu tidak keberatan dan mengizinkan aku masuk. Perasaanku ngeri juga begitu mendekati pintu kamar. Bau wangi bunga dan kemenyan begitu menyengat hidungku.
Kulirik jam ditanganku sudah menunjukkan pukul; 10.27 malam. Aku segera duduk persis didepan ranjang yang ditutupi kelambu warna kuning ini. Nampaknya sangat bagus dan terurus. Hanya diterangi sebuah lampu dinding kecil, membuat suasana dalam kamar begitu temaram.
Baru sejenak aku duduk, tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dan tawa cekikan dari luar. Benar saja, putri dan beberapa pengikutnya sudah datang. Mereka nampak terbang dari arah barat,dan hal ini jelas kulihat dari balik jendela yang sengaja kubuka. Sekejab mereka sudah berdiri didepanku, sungguh sangat cantik dan elok sekal parasnyai. Begitu juga dayang-dayangnya. Semua cantik-cantik dan masih belia. Aku jadi terkesima dibuatnya. “ eh,kenapa benggong ? Kamu takut pada kami ? Tanya putri. Aku tersentak, “ Bu....bukan putri, saya ingat .........,” aku tak dapat meneruskan kata kata lagi. “ Yah,sudahlah. Kamu tahu,kenapa kamu kusuruh datang kerumahku ini ? “ tanya putri lagi.
“ Ti...tidak putri ! “ jawabku
“ Karena aku suka pada kamu. Oleh karena itu, kamu mesti mau membantuku ?! “
“ Membantu apa,putri ? “
“ Kamu harus mau menjadi Kekasihku. Aku tahu kamu sudah beristri. Tapi itu bukan alasan untuk menolaknya. “
Belum sempat aku menjawabnya,putri sudah memelukku dan merebahkan di ranjang empuk miliknya. Sementara para dayang-dayangnya duduk mengelilingi tempat tidurnya. Malam itu aku bagai terhipnotis dan menuruti semua kemauannya. Entah berapa kali aku klimaks dibuatnya, yang jelas pagi harinya badanku lemas lunglai jadinya.
Begitulah, tiap malam jum’at aku harus kerumahnya untuk melayani nafsu putri mambang. Jika tidak,nyawa anak istriku jadi taruhannya. Seperti orang tahu,putri adalah sebuah mitos menakutkan. Tapi bagiku tidak sekedar mitos lagi tapi sebuah kenyataan. Layaknya cerita nyi roro kidul di Tanah Jawa. Ingin rasanya aku segera lepas dari cengkeraman Permainan birahinya. Tapi rasanya aku tidak bisa. Sebenarnya,apa yang kualami ini tidak seorangpun tahu selain diriku sendiri. Termasuk istri dan kedua orangtuaku.
Karena sudah tidak mau dipengaruhinya lagi, aku pamit pada istri dan kedua orang tua untuk merantau ke Medan. Seteah mendapat izin mereka, akupun berangkat. Tujuannya adalah ke Belawan,tepatnya di Sicanang. Disana aku punya Pakcek, kebetulan pakcek ku punya tambak luas. Aku bisa kerja membantunya di tambak atau juga pergi melaut.
Sudah enam bulan lamanya aku tinggal di Belawan. Penghasilanku dari melaut tidak menentu. Kadang dapat banyak kadang tidak dapat sama sekali. Meski begitu,untuk makan aku sudah pusing lagi. Karena pakcek ku yang nanggung. Jadi, jika ada kelebihan uang aku masuh sempat kirim kekampung buat istri. Meski Cuma sedikit, yang penting ada.
Menjelang bulan ketujuh, aku dapat surat dari kampung. Isinya mengatakan bahwa anakku satu-satunya sudah meninggal. Sedihnya bukan main,ini pasti perbuatan putri mambang. Jahannam !” geramku.
Pakcek menyuruhku untuk segera pulang.. Olehnya aku dikasih biaya untuk ongkos pulang. Rasa menyesal,sedih dan sakit hati berkecamuk saat itu. Andai si putri manusia biasa,pasti aku akan menuntut balas.Tiba dikampung aku mendapati pusara anakku yang masih merah.Taburan bunga-bunga masih nampak segar. Sudah tiada lagi isak tangis bayi mungil dirumahku. Sepi,sunyi !
Dua minggu berselang, aku jatuh sakit. Kedua pahaku terasa panas bagai dipanggang api. Tidak bisa bergerak maupun jalan. Akhirnya lumpuh,dokter bilang aku terkena penyakit cikungunya. Namun, paranormal bilang aku dipukuli oleh Jin...? Oh tuhan, inikah hukuman pada hambaMu yang telah mengabaikan semua perinta Mu. Jika iya, Ampunilah semua dosa-dosaku,semua kesalahanku, cukupkan semua ini hanya padaku saja. Tuhan,terimalah taubatku......!
( Kisah ini dialami oleh: Jalil seperti diceritakan pada Yusmadani.ART dari Misteri )
Semula ini hanya sebuah prosesi ritual ziarah biasa yang sudah lazim dilakukan orang di daerahku kesebuah Makam Keramat.Tak disangka, awal mulanya Aku terlibat Skandal Birahi Memabukkan di alam Siluman Putri Mambang. Mengairahkan, Namun sebuah petaka tak bisa kuelakkan................!!!! Mungkinkan ini sebuah kutukan ???
Masih teringat saat itu, tahun 1999. Bermula saat Aku, ibu , ibu mertuaku serta istriku melakukan ziarah ke Makam Keramat Putri Mambang.Makam tua seorang putri keturunan raja aceh ini terletak di sebuah desa dalam kecamatan Seunagan, kabupaten Nagan Raya. Dimana prosesi ziarah ini adalah sebuah hal yang wajib dilakukan oleh suami istri yang habis melahirkan. Ziarah ini dilakukan pada hari ke 47 setelah bersalin atau juga disebut dengan istilah turun anak atau injak tanah pertama bagi sijabang bayi. Kebetulan, istriku baru melahirkan anak pertama. Tentu saja saya selaku ayah si jabang bayi tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak pertamaku. Meski sedikit berat hati, aku menuruti kemauan ibu yang rada aneh itu.
Aku pernah dengar tentang keangkerang dari kelompok putri mambang itu. Hal ini aku dengar dari nenek,dan nenek waktu itu langsung membuktikan sendiri saat ziarah dulu. Dalam tradisi kami orang Aceh,khususnya Daerah Nagan Raya yang masih kuat adat istiadat/resam budayanya. Untuk mertua yang menantunya hamil pertama,diadakan acara antar nasi (intat bu). Hal ini dilakukan menjelang usia 6-7 bulan usia kehamilan. Dimana untuk ini ibu mertua membuat dandang lauk pauk 7 lapis dan dalung nasi serta dandang berisi aneka buah buahan. Disamping itu,ditambah lagi rantang-rantang bawaan para kerabatnya. Sedangkan untuk mengatar kerumah besan/menantunya itu diajaklah orang-orang kampung. Bisa dibayangkan betapa semaraknya acara resam antar nasi ini.
Untuk prosesi selamatannya, diantarlah barang 2-4 pasang rantang tadi yang berisi lauk pauk kerumah leluhur putri mambang. Dirumah tua bermotif aceh itu hanya ditempati oleh ibunda putri mambang seorang diri, nasi tersebut dibuat kenduri untuk menjamu anak-anak yatim piatu. Nah,saat itulah nenek mendengar hal-hal yang ganjil. Saat itu, nenek sampai kerumah itu sudah sore,kira-kira jam ; 4.50 Wib. Saat itu didaerah kami belum ada listrik. Sehingga kalo malam suasana menjadi gelap gulita hanya ada penerangan dari lampu dinding/teplok. Usai acara jamuan anak yatim, hari sudah malam. Nenek tidak segera pulang, ia asyik ngobrol dengan ibunda putri mambang.
Rumah pangung besar milik raja Nagan itu, sangat luas. Terdapat bilik bilik besar dan aula. Salah satunya ada bilik putri mambang yang tak boleh dimasuki siapapun selain oleh ibunya. Kamar itu harus dihias seperti kamar pengantin dan harus selalu bersih, jika malam hari harus dinyalakan sebuah lampu teplok didalamnya. Hal ini tetap dilakukan oleh ibunya demi kecintaan pada anak putrinya meski ia sudah tidak lagi hidup dialam nyata.
Tiba-tiba dari dalam kamar itu terdengar suara gadis-gadis ramai sekali sedang bercengkerama. Sesekali terdengar suara tawa cekikikan. Nenek merasa takut dan bulu kuduknya berdiri, hal ini diketahui oleh ibu putri mambang. “ Cut kak nggak usah takut,itulah anak saya dan para pengikutnya sudah pulang. Hal ini sudah biasa dirumah ini sejak puluhan tahun lalu “ ujar ibu putri mambang menenangkan nenek yang sedari tadi nampak gugup. “ Cut Nyak, apa hal ini berlaku setiap malam ? “ tanya neneku. “ Iya, makanya aku selalu menyalakan lampu tiap malam dikamarnya. Karena putri akan selalu pulang dengan dayang dayang nya.” Sahutnya.
“ kalo tidak dinyalakan,gimana ? “ tanya nenek lagi.
“ Ada sekali saya lupa, saat itu saya telat pulang dari acara kenduri dirumah saudara yang jauh. Putri mengobrak abrik seluruh ini rumah dan memukuli adeknya hingga pingsan ! “
“ Terus, apa yang mereka lakukan dikamar itu,Cut Nyak ? “ tanya nenek.
“ Apa lagi kalo bukan mengadu birahi,setelah seharian terbang keliling daerah untuk mencari korbannya. Dasar anak sudah mrnjadi setan ! “ jawab CutNyak dengan nada marah.
Memang, soal adanya anak-anak bayi yang dijadikan koeban sudah sering kali terjadi. Disamping itu, putri mambang juga suka mengambil korban dari ibu-ibu muda yang mau melahirkan. Diantaranya ada yang dilepaskan setelah adanya transaksi penukaran tumbal dengan ayam hitam putih, dan lainnya sesuai kesepakatan pada saat trance ketubuh mediumnya.
Pembaca budiman, sekarang kita kembali ke inti dari kisah yang saya alami. Setelah selesai prosesi ritual injak tanah pertama bayi saya di tanah makam putri mambang itu. Setelah usai,ibu,istriku dan ibu mertua langsung kembali kerumah ibu CutNyak. Sedangkan aku tinggal sendiri dikomplek makam. Aku bermaksud untuk sholat hajat dan wirid di Makam itu. Setelah usai shalat terus aku wirid. Saat wirid itulah, tanah makam terasa bergetar hebat. Aku berpikir ini pasti sedang gempa bumi. Aku tak beranjak dari tempat wirid dan terus wirid. Bau bunga melati semakin mencokol hidung, namun aku tetap tak bergeming. Tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita “ Apa yang kamu lakukan disini....? “ tanya suara tanpa wujud.
“ Maafkan saya, saya hanya melengkapi ritual turun anak saya dengan berdoa disini ! “ jawabku.
“ Sudah cukup zikirnya, jika kau ingin menyempurnakan prosesinya. Datanglah kerumahku nanti malam. Ingat tak boleh ada yang tahu tentang ini,termasuk istrimu ! ‘ ujar suara itu lagi. Karena penasaran dengan wujud dari Putri Mambang yang sudah melegenda dan ditakuti masyarakat didaerah Barat Selatan ini akupun menyanggupinya.
“ Baiklah, saya akan datang ! “ ujarku kemudian.
Malam harinya,setelah shalat isya. Aku bergegas kerumah tua milik almarhumah putri. Pada ibunya itu aku berbohong ingin melakukan ritual semedi. Hal ini aku lakukan agar si ibu mengizinkan aku masuk dalam kamar putri yang sakral itu. Benar saja, mendengar keinginanku itu. Si ibu tidak keberatan dan mengizinkan aku masuk. Perasaanku ngeri juga begitu mendekati pintu kamar. Bau wangi bunga dan kemenyan begitu menyengat hidungku.
Kulirik jam ditanganku sudah menunjukkan pukul; 10.27 malam. Aku segera duduk persis didepan ranjang yang ditutupi kelambu warna kuning ini. Nampaknya sangat bagus dan terurus. Hanya diterangi sebuah lampu dinding kecil, membuat suasana dalam kamar begitu temaram.
Baru sejenak aku duduk, tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dan tawa cekikan dari luar. Benar saja, putri dan beberapa pengikutnya sudah datang. Mereka nampak terbang dari arah barat,dan hal ini jelas kulihat dari balik jendela yang sengaja kubuka. Sekejab mereka sudah berdiri didepanku, sungguh sangat cantik dan elok sekal parasnyai. Begitu juga dayang-dayangnya. Semua cantik-cantik dan masih belia. Aku jadi terkesima dibuatnya. “ eh,kenapa benggong ? Kamu takut pada kami ? Tanya putri. Aku tersentak, “ Bu....bukan putri, saya ingat .........,” aku tak dapat meneruskan kata kata lagi. “ Yah,sudahlah. Kamu tahu,kenapa kamu kusuruh datang kerumahku ini ? “ tanya putri lagi.
“ Ti...tidak putri ! “ jawabku
“ Karena aku suka pada kamu. Oleh karena itu, kamu mesti mau membantuku ?! “
“ Membantu apa,putri ? “
“ Kamu harus mau menjadi Kekasihku. Aku tahu kamu sudah beristri. Tapi itu bukan alasan untuk menolaknya. “
Belum sempat aku menjawabnya,putri sudah memelukku dan merebahkan di ranjang empuk miliknya. Sementara para dayang-dayangnya duduk mengelilingi tempat tidurnya. Malam itu aku bagai terhipnotis dan menuruti semua kemauannya. Entah berapa kali aku klimaks dibuatnya, yang jelas pagi harinya badanku lemas lunglai jadinya.
Begitulah, tiap malam jum’at aku harus kerumahnya untuk melayani nafsu putri mambang. Jika tidak,nyawa anak istriku jadi taruhannya. Seperti orang tahu,putri adalah sebuah mitos menakutkan. Tapi bagiku tidak sekedar mitos lagi tapi sebuah kenyataan. Layaknya cerita nyi roro kidul di Tanah Jawa. Ingin rasanya aku segera lepas dari cengkeraman Permainan birahinya. Tapi rasanya aku tidak bisa. Sebenarnya,apa yang kualami ini tidak seorangpun tahu selain diriku sendiri. Termasuk istri dan kedua orangtuaku.
Karena sudah tidak mau dipengaruhinya lagi, aku pamit pada istri dan kedua orang tua untuk merantau ke Medan. Seteah mendapat izin mereka, akupun berangkat. Tujuannya adalah ke Belawan,tepatnya di Sicanang. Disana aku punya Pakcek, kebetulan pakcek ku punya tambak luas. Aku bisa kerja membantunya di tambak atau juga pergi melaut.
Sudah enam bulan lamanya aku tinggal di Belawan. Penghasilanku dari melaut tidak menentu. Kadang dapat banyak kadang tidak dapat sama sekali. Meski begitu,untuk makan aku sudah pusing lagi. Karena pakcek ku yang nanggung. Jadi, jika ada kelebihan uang aku masuh sempat kirim kekampung buat istri. Meski Cuma sedikit, yang penting ada.
Menjelang bulan ketujuh, aku dapat surat dari kampung. Isinya mengatakan bahwa anakku satu-satunya sudah meninggal. Sedihnya bukan main,ini pasti perbuatan putri mambang. Jahannam !” geramku.
Pakcek menyuruhku untuk segera pulang.. Olehnya aku dikasih biaya untuk ongkos pulang. Rasa menyesal,sedih dan sakit hati berkecamuk saat itu. Andai si putri manusia biasa,pasti aku akan menuntut balas.Tiba dikampung aku mendapati pusara anakku yang masih merah.Taburan bunga-bunga masih nampak segar. Sudah tiada lagi isak tangis bayi mungil dirumahku. Sepi,sunyi !
Dua minggu berselang, aku jatuh sakit. Kedua pahaku terasa panas bagai dipanggang api. Tidak bisa bergerak maupun jalan. Akhirnya lumpuh,dokter bilang aku terkena penyakit cikungunya. Namun, paranormal bilang aku dipukuli oleh Jin...? Oh tuhan, inikah hukuman pada hambaMu yang telah mengabaikan semua perinta Mu. Jika iya, Ampunilah semua dosa-dosaku,semua kesalahanku, cukupkan semua ini hanya padaku saja. Tuhan,terimalah taubatku......!
( Kisah ini dialami oleh: Jalil seperti diceritakan pada Yusmadani.ART dari Misteri )
Sabtu, 07 Juli 2007
blogger.Anekaberita-nagan raya. - by.Yusmadani.ART: TERJEBAK BIRAHI PUTRI MAMBANG
Jika Aceh Menjadi Tiga
oleh Sidik Pramono dan Ahmad Arif
Ketua DPRD Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Tagore Abubakar terlihat gusar.
Kepada wakil elemen mahasiswa Arbie Misra, Tagore mengingatkan rekomendasi pemboikotan pelaksanaan pemilihan kepala daerah yang disampaikan elemen mahasiswa Aceh Leuser Antara adalah hal yang riskan dan bisa-bisa kontraproduktif terhadap niatan memekarkan diri.
Dalam penyampaian rekomendasi hasil Silaturahmi dan Temu Akbar Masyarakat Aceh Leuser Antara (ALA) se-Indonesia pada Minggu (6/8) sore, selain mendesak percepatan pengesahan RUU Pembentukan ALA, elemen mahasiswa juga menyerukan boikot atas pelaksanaan pilkada Aceh.
Mahasiswa merekomendasikan adanya mogok kerja struktural birokrasi pemerintahan di lima kabupaten ALA secara serentak. Langkah itu merupakan bentuk pembangkangan sipil atas pengabaian aspirasi masyarakat ALA untuk membentuk provinsinya sendiri. Pertemuan raya di Gedung Olah Seni Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, sepanjang 4-6 Agustus lalu itu memang hanya merupakan penegasan atas keinginan untuk memperjuangkan pembentukan Provinsi ALA.
Usul lama
Aspirasi pembentukan Provinsi ALA sebenarnya sudah mulai muncul pada 1999 dan telah menjadi RUU inisiatif DPR pada 28 September 2004. Namun, proses berikutnya mentok, salah satunya karena belum terpenuhinya syarat administratif berupa surat usulan Gubernur dan persetujuan DPRD Aceh. Padahal sejumlah syarat penting sudah terpenuhi— termasuk di antaranya surat keputusan persetujuan dari DPRD kabupaten dan usulan dari bupati di wilayah calon provinsi baru itu.
Ketika persoalan ALA belum tuntas, muncul kemudian aspirasi dari elemen masyarakat Aceh untuk membentuk Provinsi Aceh Barat Selatan (Abas) terpisah dari Aceh. Yang berencana tergabung dalam provinsi baru ini ada enam kabupaten, yaitu Aceh Barat, Aceh Selatan, Simeuleu, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, dan Nagan Raya. Alasan yang diusung nyaris sama, wilayah mereka lebih kerap dilupakan oleh Banda Aceh sebagai ”pusat”.
Sekalipun aspirasi ini muncul belakangan, namun elemen masyarakat Abas berharap agar peresmian provinsi baru tersebut bisa dilaksanakan berbarengan dengan peresmian pembentukan ALA. Keduanya kemudian membentuk Forum Bersama Komite Pembentukan Provinsi ALA dan Abas. Bertempat di Jakarta, elemen masyarakat ALA dan Abas mendeklarasikan berdirinya kedua provinsi baru itu pada 4 Desember 2005.
Kekhawatiran usul tersebut bakal mentok sempat mencuat saat pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Draf usul DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dianggap tidak mengakomodasi—bahkan terkesan menafikan—pembentukan provinsi baru. Namun, elemen ALA dan Abas menilai ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 mengenai Pemerintahan Aceh tidak menutup aspirasi pembentukan daerah otonom baru di Aceh.
Mengenai komplikasi pemberlakuan otonomi luas untuk Aceh, sebagaimana terjadi dengan Papua lewat pembentukan Provinsi Irian Jaya Barat, Tagore menyatakan bahwa hal serupa tidak akan terjadi di Aceh. Kalaupun ALA jadi terbentuk, tidak masalah jika keistimewaan Aceh, seperti dana tambahan, tidak diberikan kepada mereka. Potensi yang dimiliki ALA dengan pengelolaan secara baik diyakini sudah mencukupi untuk membangun wilayah mereka.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Raihan Iskandar (Partai Keadilan Sejahtera) menilai usul pembentukan provinsi ALA (ataupun Abas) tidak perlu diperdebatkan, setelah UU Nomor 11 Tahun 2006 disahkan dan (relatif) bisa diterima semua pihak. Klausul pembentukan provinsi baru (yang bisa diartikan berarti penghapusan kabupaten/kota bersangkutan dari Aceh) sudah termuat dalam undang-undang tersebut.
Kalaupun persetujuan DPRD Aceh yang dipersoalkan, mestinya hal itu bisa diatasi apabila anggota DPRD dari daerah pemilihan yang masuk dalam wilayah ALA dan Abas mengajukan inisiatif pembentukan Panitia Khusus DPRD untuk membahas aspirasi pembentukan provinsi baru itu.
Namun, Raihan juga menyebutkan bahwa soal keistimewaan berikut hak khusus sebagaimana diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2006 hanya melekat pada Aceh ”induk”. Hal itu mestinya juga dijadikan pertimbangan dalam usul pembentukan provinsi baru tersebut.
”Harus dihitung dulu maslahat dan mudaratnya, jadi bisa dihitung kapan waktu yang tepat untuk bicara,” ujar Raihan.
Sementara menurut Wakil Ketua Komisi II DPR Sayuti Asyathri (Fraksi Partai Amanat Nasional, Jawa Barat III), DPR (dan juga pemerintah) tentunya tidak akan menghalangi aspirasi masyarakat untuk membentuk daerah otonom sendiri. Sepanjang seluruh persyaratan administratifnya terpenuhi, aspirasi itu tentu akan diproses ke tahap lebih lanjut.
Akan tetapi, khusus untuk Aceh tentu saja mesti ada pertimbangan khusus. Sejauh mungkin ide pemekaran itu tidak bertabrakan dengan semangat perdamaian yang mulai tercipta. Akan mahal ongkos sosial-politiknya jika sampai wacana pemekaran tersebut justru memecahkan kembali perdamaian yang mulai dirasakan rakyat Aceh.
Namun, Sayuti memahami kendala yang dihadapi warga di wilayah ALA dan Abas dalam hal pelayanan publik. Pelayanan pusat pemerintahan di Banda Aceh terkendala jarak dan kondisi geografis untuk menjangkaunya. Jika soalnya adalah perbaikan pelayanan terhadap masyarakat, terlepas jadi-tidaknya pemekaran itu dilakukan, hal tersebut harus menjadi fokus perhatian seluruh pihak.
Kontradiksi?
Pemekaran bukanlah hal yang sama sekali ditabukan di Aceh. Justru Aceh termasuk daerah yang cepat ”beranak-pinak” dibandingkan dengan daerah lainnya. Hal itu terlihat dari jumlah kabupaten/kota yang pertambahannya signifikan sejak era reformasi. Sebelum 1999 Aceh hanya terdiri atas 10 kabupaten/kota. Namun, sampai saat ini, jumlahnya meningkat menjadi 21 kabupaten/kota. Terakhir, RUU pembentukan dua calon daerah otonom baru—Kabupaten Pidie Jaya dan Kota Subulussalam—sudah akan resmi diajukan sebagai inisiatif DPR untuk dibahas bersama pemerintah.
Salah satu alasan menonjol yang kerap dikemukakan terkait dengan pemekaran itu adalah soal rentang kendali pemerintahan. Wilayah ALA dan Abas kerap dilupakan, tidak ada pembangunan yang optimal dengan wilayah yang terentang dari ujung ke ujung, dengan kondisi geografis perbukitan, jalan darat berkelok-kelok, terasa sulit mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat. Misalnya, Takengon bisa dicapai dari Banda Aceh lewat perjalanan darat selama delapan jam. Waktu tempuh yang nyaris sama dibutuhkan dari Banda Aceh ke Meulaboh (Aceh Barat).
”Yang susah, ini karena sudah jauh letaknya, jauh pula di hati,” ujar Tagore.
Harus diakui bahwa pembangunan di lima kabupaten yang tergabung dalam ALA tertinggal dibandingkan dengan daerah lain di Aceh. Singkil, misalnya, lebih menyerupai kota kecamatan dibandingkan kabupaten. Singkil saat ini bahkan terancam tenggelam akibat kondisi daratan yang turun pascagempa Nias tahun lalu. Selain itu, hampir tidak terlihat pembangunan berarti di daerah pedalaman atau pulau luar di Kepulauan Banyak.
Demikian juga dengan Blangkejeren, ibu kota Kabupaten Gayo Lues. Kekayaan alamnya tak mampu membuatnya berkembang. Posisinya yang berada di tengah dataran tinggi Gayo susah diakses. Kesulitan transportasi pula yang membuat daerah pedalaman, seperti Pinning dan Trangon, terisolasi. Hal hampir serupa terjadi di Bener Meriah.
Praktis hanya Aceh Tengah dan Aceh Tenggara yang kondisinya lumayan maju. Namun, di daerah pedalaman, seperti Pameung, Aceh Tengah, kondisinya tidak kalah mengenaskan. Kedua daerah ini juga memiliki ketergantungan tinggi dengan daerah tetangga. Aceh Tengah tergantung pada Bireuen dan Aceh Tenggara pada Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Aksi boikot terhadap Aceh Tengah pada saat konflik menyebabkan daerah ini lumpuh.
Saat Kompas melintasi jalanan di Aceh Tengah maupun Bener Meriah pada awal Agustus, poster dan stiker dukungan pembentukan Provinsi ALA begitu mudah dijumpai di rumah penduduk. Spanduk besar dengan nada serupa pun begitu mencolok di pinggiran jalanan. Apakah artinya dukungan begitu meluas?
Apa pun, patut juga disimak tuturan Hj Saimah (70), warga Takengon. Baginya, pemekaran atau bukan adalah urusan pimpinan. Yang terpenting bagi masyarakat adalah adanya jaminan keamanan dan kesempatan lebih luas untuk meraih kesejahteraan.
Jadi, kalau Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dimekarkan menjadi tiga, apa jadinya? Lebih maju atau makin berantakan? Siapa yang bisa menduga? (Kompas.com)
oleh Sidik Pramono dan Ahmad Arif
Ketua DPRD Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Tagore Abubakar terlihat gusar.
Kepada wakil elemen mahasiswa Arbie Misra, Tagore mengingatkan rekomendasi pemboikotan pelaksanaan pemilihan kepala daerah yang disampaikan elemen mahasiswa Aceh Leuser Antara adalah hal yang riskan dan bisa-bisa kontraproduktif terhadap niatan memekarkan diri.
Dalam penyampaian rekomendasi hasil Silaturahmi dan Temu Akbar Masyarakat Aceh Leuser Antara (ALA) se-Indonesia pada Minggu (6/8) sore, selain mendesak percepatan pengesahan RUU Pembentukan ALA, elemen mahasiswa juga menyerukan boikot atas pelaksanaan pilkada Aceh.
Mahasiswa merekomendasikan adanya mogok kerja struktural birokrasi pemerintahan di lima kabupaten ALA secara serentak. Langkah itu merupakan bentuk pembangkangan sipil atas pengabaian aspirasi masyarakat ALA untuk membentuk provinsinya sendiri. Pertemuan raya di Gedung Olah Seni Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, sepanjang 4-6 Agustus lalu itu memang hanya merupakan penegasan atas keinginan untuk memperjuangkan pembentukan Provinsi ALA.
Usul lama
Aspirasi pembentukan Provinsi ALA sebenarnya sudah mulai muncul pada 1999 dan telah menjadi RUU inisiatif DPR pada 28 September 2004. Namun, proses berikutnya mentok, salah satunya karena belum terpenuhinya syarat administratif berupa surat usulan Gubernur dan persetujuan DPRD Aceh. Padahal sejumlah syarat penting sudah terpenuhi— termasuk di antaranya surat keputusan persetujuan dari DPRD kabupaten dan usulan dari bupati di wilayah calon provinsi baru itu.
Ketika persoalan ALA belum tuntas, muncul kemudian aspirasi dari elemen masyarakat Aceh untuk membentuk Provinsi Aceh Barat Selatan (Abas) terpisah dari Aceh. Yang berencana tergabung dalam provinsi baru ini ada enam kabupaten, yaitu Aceh Barat, Aceh Selatan, Simeuleu, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, dan Nagan Raya. Alasan yang diusung nyaris sama, wilayah mereka lebih kerap dilupakan oleh Banda Aceh sebagai ”pusat”.
Sekalipun aspirasi ini muncul belakangan, namun elemen masyarakat Abas berharap agar peresmian provinsi baru tersebut bisa dilaksanakan berbarengan dengan peresmian pembentukan ALA. Keduanya kemudian membentuk Forum Bersama Komite Pembentukan Provinsi ALA dan Abas. Bertempat di Jakarta, elemen masyarakat ALA dan Abas mendeklarasikan berdirinya kedua provinsi baru itu pada 4 Desember 2005.
Kekhawatiran usul tersebut bakal mentok sempat mencuat saat pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Draf usul DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dianggap tidak mengakomodasi—bahkan terkesan menafikan—pembentukan provinsi baru. Namun, elemen ALA dan Abas menilai ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 mengenai Pemerintahan Aceh tidak menutup aspirasi pembentukan daerah otonom baru di Aceh.
Mengenai komplikasi pemberlakuan otonomi luas untuk Aceh, sebagaimana terjadi dengan Papua lewat pembentukan Provinsi Irian Jaya Barat, Tagore menyatakan bahwa hal serupa tidak akan terjadi di Aceh. Kalaupun ALA jadi terbentuk, tidak masalah jika keistimewaan Aceh, seperti dana tambahan, tidak diberikan kepada mereka. Potensi yang dimiliki ALA dengan pengelolaan secara baik diyakini sudah mencukupi untuk membangun wilayah mereka.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Raihan Iskandar (Partai Keadilan Sejahtera) menilai usul pembentukan provinsi ALA (ataupun Abas) tidak perlu diperdebatkan, setelah UU Nomor 11 Tahun 2006 disahkan dan (relatif) bisa diterima semua pihak. Klausul pembentukan provinsi baru (yang bisa diartikan berarti penghapusan kabupaten/kota bersangkutan dari Aceh) sudah termuat dalam undang-undang tersebut.
Kalaupun persetujuan DPRD Aceh yang dipersoalkan, mestinya hal itu bisa diatasi apabila anggota DPRD dari daerah pemilihan yang masuk dalam wilayah ALA dan Abas mengajukan inisiatif pembentukan Panitia Khusus DPRD untuk membahas aspirasi pembentukan provinsi baru itu.
Namun, Raihan juga menyebutkan bahwa soal keistimewaan berikut hak khusus sebagaimana diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2006 hanya melekat pada Aceh ”induk”. Hal itu mestinya juga dijadikan pertimbangan dalam usul pembentukan provinsi baru tersebut.
”Harus dihitung dulu maslahat dan mudaratnya, jadi bisa dihitung kapan waktu yang tepat untuk bicara,” ujar Raihan.
Sementara menurut Wakil Ketua Komisi II DPR Sayuti Asyathri (Fraksi Partai Amanat Nasional, Jawa Barat III), DPR (dan juga pemerintah) tentunya tidak akan menghalangi aspirasi masyarakat untuk membentuk daerah otonom sendiri. Sepanjang seluruh persyaratan administratifnya terpenuhi, aspirasi itu tentu akan diproses ke tahap lebih lanjut.
Akan tetapi, khusus untuk Aceh tentu saja mesti ada pertimbangan khusus. Sejauh mungkin ide pemekaran itu tidak bertabrakan dengan semangat perdamaian yang mulai tercipta. Akan mahal ongkos sosial-politiknya jika sampai wacana pemekaran tersebut justru memecahkan kembali perdamaian yang mulai dirasakan rakyat Aceh.
Namun, Sayuti memahami kendala yang dihadapi warga di wilayah ALA dan Abas dalam hal pelayanan publik. Pelayanan pusat pemerintahan di Banda Aceh terkendala jarak dan kondisi geografis untuk menjangkaunya. Jika soalnya adalah perbaikan pelayanan terhadap masyarakat, terlepas jadi-tidaknya pemekaran itu dilakukan, hal tersebut harus menjadi fokus perhatian seluruh pihak.
Kontradiksi?
Pemekaran bukanlah hal yang sama sekali ditabukan di Aceh. Justru Aceh termasuk daerah yang cepat ”beranak-pinak” dibandingkan dengan daerah lainnya. Hal itu terlihat dari jumlah kabupaten/kota yang pertambahannya signifikan sejak era reformasi. Sebelum 1999 Aceh hanya terdiri atas 10 kabupaten/kota. Namun, sampai saat ini, jumlahnya meningkat menjadi 21 kabupaten/kota. Terakhir, RUU pembentukan dua calon daerah otonom baru—Kabupaten Pidie Jaya dan Kota Subulussalam—sudah akan resmi diajukan sebagai inisiatif DPR untuk dibahas bersama pemerintah.
Salah satu alasan menonjol yang kerap dikemukakan terkait dengan pemekaran itu adalah soal rentang kendali pemerintahan. Wilayah ALA dan Abas kerap dilupakan, tidak ada pembangunan yang optimal dengan wilayah yang terentang dari ujung ke ujung, dengan kondisi geografis perbukitan, jalan darat berkelok-kelok, terasa sulit mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat. Misalnya, Takengon bisa dicapai dari Banda Aceh lewat perjalanan darat selama delapan jam. Waktu tempuh yang nyaris sama dibutuhkan dari Banda Aceh ke Meulaboh (Aceh Barat).
”Yang susah, ini karena sudah jauh letaknya, jauh pula di hati,” ujar Tagore.
Harus diakui bahwa pembangunan di lima kabupaten yang tergabung dalam ALA tertinggal dibandingkan dengan daerah lain di Aceh. Singkil, misalnya, lebih menyerupai kota kecamatan dibandingkan kabupaten. Singkil saat ini bahkan terancam tenggelam akibat kondisi daratan yang turun pascagempa Nias tahun lalu. Selain itu, hampir tidak terlihat pembangunan berarti di daerah pedalaman atau pulau luar di Kepulauan Banyak.
Demikian juga dengan Blangkejeren, ibu kota Kabupaten Gayo Lues. Kekayaan alamnya tak mampu membuatnya berkembang. Posisinya yang berada di tengah dataran tinggi Gayo susah diakses. Kesulitan transportasi pula yang membuat daerah pedalaman, seperti Pinning dan Trangon, terisolasi. Hal hampir serupa terjadi di Bener Meriah.
Praktis hanya Aceh Tengah dan Aceh Tenggara yang kondisinya lumayan maju. Namun, di daerah pedalaman, seperti Pameung, Aceh Tengah, kondisinya tidak kalah mengenaskan. Kedua daerah ini juga memiliki ketergantungan tinggi dengan daerah tetangga. Aceh Tengah tergantung pada Bireuen dan Aceh Tenggara pada Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Aksi boikot terhadap Aceh Tengah pada saat konflik menyebabkan daerah ini lumpuh.
Saat Kompas melintasi jalanan di Aceh Tengah maupun Bener Meriah pada awal Agustus, poster dan stiker dukungan pembentukan Provinsi ALA begitu mudah dijumpai di rumah penduduk. Spanduk besar dengan nada serupa pun begitu mencolok di pinggiran jalanan. Apakah artinya dukungan begitu meluas?
Apa pun, patut juga disimak tuturan Hj Saimah (70), warga Takengon. Baginya, pemekaran atau bukan adalah urusan pimpinan. Yang terpenting bagi masyarakat adalah adanya jaminan keamanan dan kesempatan lebih luas untuk meraih kesejahteraan.
Jadi, kalau Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dimekarkan menjadi tiga, apa jadinya? Lebih maju atau makin berantakan? Siapa yang bisa menduga? (Kompas.com)
Jumat, 06 Juli 2007
MISTERI DIBALIK MIMPI
Mimpi itu sendiri memang misteri, namun di balik mimpi tersembunyi banyak misteri. Benarkah orang mampu melukai orang lain saat ia terbuai dalam tidurnya yang lelap?
Selama ini somnabulisme atau tindakan yang dilakukan orang saat tidur, diketahui hanya terbatas pada mengoceh (mengingau), berjalan, atau paling-paling makan sambil tidur (Intisari November 1982 dan April 1993). Banyak peneliti berpendapat serupa, somnambulisme terjadi pada fase tidak bermimpi, atau disebut tahap REM (rapid eye movement) di mana fungsi otot biasanya "lumpuh". Mimpi membela diriNamun pernah ditemukan, ada orang yang tidak mengalami "kelumpuhan" otot selama fase REM sehingga mereka melakukan tindakan yang sesuai dengan mimpi mereka. "Pengidap" penyimpangan tidur selama fase REM seperti itu cenderung melukai orang lain. Ini berbeda dengan somnambulisme yang justru cenderung mencelakakan diri sendiri. Cukup banyak kasus muncul akibat penyimpangan itu, bahkan sampai pada terjadinya misalnya kasus pembunuhan. Pelakunya bisa siapa saja, bahkan yang sehari-harinya dikenal baik hati. Mereka tanpa sadar melukai korban, biasanya orang-orang dekat yang mereka cintai. Ambil contoh saja, seorang wanita bermimpi rumahnya kebakaran. Namun yang terjadi, ia benar-benar melemparkan anak-anaknya ke luar jendela dari lantai atas untuk menyelamatkan mereka. Contoh lain, seorang pria menembak mati istrinya saat bermimpi sedang berhadapan dengan perampok di rumahnya. Hal serupa terjadi pada seorang gadis 16 tahun dari Kentucky, AS, yang dalam mimpi buruknya melihat beberapa penjahat masuk ke rumahnya. Ia segera bertindak dengan mengambil senapan berburu milik ayahnya untuk menembak para penjahat. Tapi tindakan itu berakibat fatal. Ayah dan adik laki-lakinya tewas, sementara ibunya luka parah.Ada lagi kisah getir yang mirip naskah cerita film. Seorang detektif polisi terpaksa menyela liburannya di tepi pantai untuk membantu petugas hukum lokal menyelidiki kasus penembakan yang tampaknya tanpa motif. Penembakan itu sendiri terjadi di dekat penginapan sang detektif. Di TKP (tempat kejadian perkara) ia menemukan jejak kaki yang satu jarinya hilang .... Seketika ia gemetar, diakah pelakunya? Mungkinkah ia melakukan semua itu dalam tidur saat bermimpi menangkap penjahat, yang memang sering ia alami?Yang perlu dilakukan kemudian oleh para penyidik, bagaimana membuktikan bahwa si pelaku beraksi dengan sadar. Sebab, bisa saja setiap pelaku tindak kejahatan berkilah, "Saya sedang tidur! Saya tidak sadar saat melakukannya!"Menurut dr. Meir Kryger, pimpinan Klinik Penyimpangan Tidur di Winnipeg, Kanada, "Dalam kasus penyimpangan tidur sejati, si pelaku memang tidak dapat bertanggung jawab atas tindakannya. Namun, meski bebas dari tuntutan, ia tidak boleh dibiarkan bebas berkeliaran sampai perilaku menyimpangnya sembuh."Lebih membingungkan lagi, psikiater dan ahli saraf tidak menemukan bukti adanya kelainan mental pada kasus-kasus kriminal semacam ini.Tidur langsung lumpuhSampai sekarang pun banyak aspek dalam tidur yang belum benar-benar terungkap. Salah satunya paralysis nocturna alias ketindihan, atau orang Sunda bilang eureup-eureup. Pada kondisi ini selama beberapa detik penderita merasa ditindih sesuatu, sehingga tidak bisa bergerak atau bernapas.Penjelasan mengenai kasus ketindihan itu bisa beragam. Dari sudut pandang tradisional, Sunda misalnya, penyebabnya adalah laba-laba berjumlah kaki ganjil yang juga menempati kamar tidur pelaku. Sedangkan di Newfoundland kasus itu dikatakan akibat pekerjaan usil tukang sihir.Kemudian ada peneliti yang mencoba memberikan penjelasan yang lebih masuk akal. Ketindihan itu merupakan kelumpuhan tidur non-REM.Pada kondisi REM secara otomatis tubuh akan menonaktifkan seluruh otot tubuh demi keamanan. Bila tidak, bisa-bisa kita melakukan apa pun yang muncul dalam mimpi, persis seperti pengidap penyimpangan perilaku tidur fase REM. Biasanya, otot kembali aktif saat bangun tidur - sayangnya, kadang-kadang terlambat. Keterlambatan ini begitu singkat sehingga kita tidak menyadari atau mengamatinya. Namun, bila keterlambatan itu berlangsung cukup lama, lebih dari semenit, alarm kesadaran keburu memberi tahu bahwa kita tidak dapat bergerak.Sedangkan mengenai sensasi dada tertindih, sebuah teori menghubungkannya dengan refleks menyelam - kemampuan mamalia air untuk memperlambat napas dan denyut jantung agar dapat menyelam lebih lama. Diduga, dahulu kala manusia pernah memiliki kemampuan ini, sehingga meski lewat evolusi manusia telah kehilangan kemampuan ini, sisa-sisanya masih tertinggal dalam kode genetik manusia sekarang.Dengan asumsi itu, diperkirakan refleks menyelam ini sewaktu-waktu muncul dalam kondisi tidur pulas tanpa mimpi. Manifestasinya, sistem pendukung perlindungan tubuh ditekan, sehingga mengakibatkan terjadinya sensasi ketindihan dan kesulitan bernapas - ditambah rasa takut dan panik. Mungkin ini serupa dengan efek yang menyertai serangan jantung.Refleks menyelam itu juga diduga sebagai penyebab sindrom kematian mendadak pada bayi, dan pemicu sentakan myoclonik; tiba-tiba terjaga seketika dari tidur lelap karena merasa tersandung atau terpeleset. Sesungguhnya, sentakan ini disebabkan oleh arus listrik besar yang dikirim oleh otak ke otot sebagai bagian dari mekanisme penyelamatan diri. Otak mengejutkan tubuh agar kembali beraksi normal, karena pernapasan dan peredaran darah terlalu lambat. Datangnya sang "tamu"Penyimpangan tidur selama REM pun menunjuk pada situasi si pelaku merasa didatangi "tamu". Beberapa ilmuwan mencoba menyelidiki perasaan "ditemani" itu. Menurut ahli saraf Michael Persinger, kondisi itu serupa dengan kesadaran akan keberadaan kita sendiri, yang informasinya tersimpan di belahan otak kiri. Untuk menjawab rasa ingin tahunya, Persinger mengadakan percobaan dengan merangsang belahan otak kanan dengan sensasi tertentu. Hasilnya, "Muncul perasaan akan kehadiran seseorang pada jarak yang terlampau dekat, sehingga terasa menakutkan." Kemampuan untuk merasakan halusinasi ini makin besar, bila interaksi antara belahan otak kiri dan kanan makin besar. Hal ini banyak terjadi pada orang yang karena cedera pada otaknya menyebabkan hilangnya bagian pemisah antara dua belahan otak itu. Terbukti 80% pasien Persinger yang mengalami cedera sejenis merasakan situasi demikian. "Mereka mengira sudah mulai gila, padahal itu proses normal bila input tipe tertentu dari belahan otak kanan tak lagi seeksklusif belahan otak kiri."Dulu, di kalangan masyarakat Eropa, ada yang menghubungkan ketindihan dengan peran Succubus dan Incubus, roh jahat penggoda cinta. Di malam hari, katanya, roh itu akan mendatangi korban di tempat tidur, menduduki dadanya sehingga korban merasa sesak napas, lalu mengajak bercinta. Tak heran bila ketindihan dinamai juga mimpi buruk Incubus.Yang menjadi pertanyaan, apakah Succubus dan Incubus itu benar ada? Sebaliknya, apakah ketindihan itu sekadar dipicu oleh mimpi buruk? Penulis Colin dan Damon Wilson berhasil melacak beberapa orang, salah satunya psikolog Stan Gooch. Gooch menyebut "tamu"-nya sebagai Succubus yang penampilannya merupakan kombinasi beberapa wanita kenalannya. Ia bersikukuh dalam keadaan sadar saat digoda Succubus, meski ia juga tidak menolak pendapat bahwa Succubus adalah hasil kreasi alam pikirannya sendiri.Dalam bukunya, Gooch mengutip beberapa orang yang meski dihipnotis tetap mampu menyentuh, melihat, bahkan mendengar sesuai dengan perintah penghipnotis. Halusinasi buatan tidak terbatas pada pendengaran dan penglihatan. Di panggung hipnotis misalnya, sering terlihat seorang penghipnotis membujuk orang untuk meyakini bahwa yang dicicipinya adalah apel yang lezat, padahal itu bawang. Halusinasi taktil atau berkaitan dengan indera peraba pun bisa muncul. Jadi, bukannya tak mungkin, kemunculannya terjadi secara spontan.Succubus dan Incubus memang sangat mungkin buah pikiran saat tidur. Teknisnya, pengalaman nyata sehari-hari adalah masukan yang diterima dari indera kemudian diolah oleh otak. Demikian juga mimpi, bedanya tanpa terlebih dahulu mendapat masukan dari indera.Dalam percobaannya peneliti tidur Steven LaBerge menunjukkan, respons otak dan tubuh saat melakukan pelbagai kegiatan - mulai dari memecahkan soal matematika hingga bercinta - di dalam mimpi dibandingkan dengan di alam sadar, ternyata hanya sedikit bedanya. LaBerge terkenal karena penelitiannya terhadap fenomena mimpi sadar. Pada kondisi mimpi sadar, pelaku tidur tetap dalam keadaan sadar dan bisa melakukan apa pun yang disukainya. Bedanya, di alam mimpi sadar semua terlihat aneh dan lebih indah. Bayangkan, si pelaku merasa mampu melakukan semua yang tidak mungkin terjadi di alam nyata, terbang misalnya. Mimpi sadar sendiri diperkenalkan pertama kali oleh psikiater Belanda Frederik van Eeden, pada 1913. Dalam survai, lebih dari separuh respondennya melaporkan pernah mendapatkan mimpi itu; malah sekitar 10% mengalaminya secara teratur. Pernah ada yang berteori bahwa mimpi sadar terjadi dalam episode terjaga singkat, yang pada banyak orang berlangsung lima kali sepanjang malam. Saking singkatnya, ia tidak ingat lagi saat terjaga di esok paginya. Artinya, mimpi sadar lebih mirip lamunan, atau lanjutan mimpi. Hanya saja, karena masih terlalu bingung, yang bersangkutan tidak menyadari bahwa sedang terjaga. Ini sebenarnya sesuai dengan pendapat peneliti tidur aliran tradisional, bahwa dalam keadaan sadar orang tidak bermimpi. Istilah mimpi sadar kemudian dimasukkan dalam kategori paradoks.Namun LaBerge membuktikan bahwa mimpi dalam keadaan sadar memang ada. Percobaan yang ia lakukan membuktikan, dalam kondisi terkontrol, ia mampu berkomunikasi dengan subjek penelitiannya dengan menggunakan sinyal gerakan mata. Artinya, subjek dalam keadaan sadar dan terjaga, sementara mesin monitor fungsi tubuh menunjukkan mereka berada tahap tidur REM.LaBerge yakin, mimpi sadar bermanfaat bagi jiwa manusia, karena dalam mimpi itu ia dapat meraih semua keinginannya. LaBerge juga menunjukkan, mimpi sadar bisa menghibur, seperti permainan virtual reality yang dipertunjukkan oleh komputer terbaik di dunia: otak manusia.Terhadap karya LaBerge tahun 1992 itu Skeptical Inquirer, jurnal CSICOP - komisi yang melakukan penyelidikan ilmiah terhadap klaim-klaim paranormal - menyatakan, metode yang digunakan LaBerge sangat cermat, sehingga mendorong orang terus memikirkan apakah sifat-sifat alam sadar ... dan apakah sifat-sifat alam imajinasi? Roh jahat atau dorongan terpendam?Dalam penelitian terhadap Incubus dan Succubus, Colin dan Damon Wilson menemukan sejumlah kasus di mana "kehadiran" itu terasa mengganggu, bahkan menyakitkan, seperti yang dirasakan Marcia.Kisahnya bermula ketika Marcia yang master psikologi dari AS itu tengah berlibur di Sao Paulo. Karena tidak percaya takhayul, ia membawa pulang patung kapur kecil berujud Dewi Laut Yamanja yang ditinggalkan orang di pantai sebagai persembahan upacara. Padahal bibinya telah memperingatkan. Tak lama kemudian, Marcia jatuh sakit, dan dua kali hampir tak terselamatkan dari kecelakaan di rumah: meledaknya pressure cooker dan oven. Yang paling aneh, ia mengaku saat terbaring di tempat tidur, berkali-kali merasakan ada orang (atau sesuatu) masuk ke kamarnya, naik ke tempat tidur dan ... memperkosanya! Serangan-serangan itu baru berhenti setelah bibinya berkonsultasi dengan ahli Umbanda - semacam voodoo - dan mengembalikan patung itu ke pantai.Yang tak kalah aneh adalah serangan terhadap sejumlah gadis penghuni sekolah asrama di Rietfontein, Botswana, pada 1985. Mereka melaporkan, beberapa sosok laki-laki dan perempuan telah mengoyakkan pakaian, memotongi rambut, dan mencakari mereka.Pemeriksaan kesehatan bahkan mengungkap adanya sejumlah jarum yang tertanam cukup dalam di bawah luka pada kaki para korban. Sementara serangan terus berlanjut, polisi tidak mampu menemukan pelaku ataupun penjelasan. Apakah ini kasus roh-roh gentayangan yang nakal (poltergeist)?Namun ilmu pengetahuan percaya, gangguan yang biasanya menimbulkan bunyi ribut, menyebabkan beterbangannya peralatan memasak atau perabot rumah, serta sering menyebabkan luka ringan, bukanlah pekerjaan roh jahat. Justru si korbanlah penyebab semua manifestasi itu. Maka tak aneh bila sering kali kasus poltergeist berakhir begitu korban menjalani terapi kejiwaan.Bukti nyata tampak pada kasus remaja dari Roma, Eleanora Zugun. Peneliti sempat memeriksa luka serupa cakaran atau gigitan yang muncul mendadak di wajah dan lengannya. Luka-luka itu muncul hanya saat Eleanora merasa tersinggung oleh perbuatan atau perkataan orang lain, yang memang sering terjadi. Serangan itu hilang ketika ia beranjak dewasa dan tidak begitu neurotik lagi.Korban poltergeist yang kebanyakan adalah remaja, menurut ahli, berhubungan dengan tertekannya dorongan seksual mereka. Korban dari tiga kasus poltergeist terkenal di AS diketahui tergila-gila pada orang terkenal, di antaranya dengan tokoh polisi di film seri TV Starsky and Hutch. Ini menggugah para teoritis untuk menyelidiki, mungkinkah konsentrasi tinggi energi emosional yang terpendam dapat termanifestasikan dalam bentuk-bentuk yang aneh, yang belum kita pahami?Teori serupa mungkin berlaku pada kemunculan Incubus dan Succubus, yang besar kemungkinan lahir dari pikiran orang juga. Dengan tumbuhnya kedewasaan, bertambah pula kemampuan seseorang untuk mengendalikan dorongan seksual, meskipun saat tidur kontrol itu bisa saja hilang. Tidur tidaklah sesederhana tampaknya. Di balik kelopak mata yang terkatup, tersimpan misteri dunia lain, dunia supranatural. (YUSMADANI.ART / Dsb)
Selama ini somnabulisme atau tindakan yang dilakukan orang saat tidur, diketahui hanya terbatas pada mengoceh (mengingau), berjalan, atau paling-paling makan sambil tidur (Intisari November 1982 dan April 1993). Banyak peneliti berpendapat serupa, somnambulisme terjadi pada fase tidak bermimpi, atau disebut tahap REM (rapid eye movement) di mana fungsi otot biasanya "lumpuh". Mimpi membela diriNamun pernah ditemukan, ada orang yang tidak mengalami "kelumpuhan" otot selama fase REM sehingga mereka melakukan tindakan yang sesuai dengan mimpi mereka. "Pengidap" penyimpangan tidur selama fase REM seperti itu cenderung melukai orang lain. Ini berbeda dengan somnambulisme yang justru cenderung mencelakakan diri sendiri. Cukup banyak kasus muncul akibat penyimpangan itu, bahkan sampai pada terjadinya misalnya kasus pembunuhan. Pelakunya bisa siapa saja, bahkan yang sehari-harinya dikenal baik hati. Mereka tanpa sadar melukai korban, biasanya orang-orang dekat yang mereka cintai. Ambil contoh saja, seorang wanita bermimpi rumahnya kebakaran. Namun yang terjadi, ia benar-benar melemparkan anak-anaknya ke luar jendela dari lantai atas untuk menyelamatkan mereka. Contoh lain, seorang pria menembak mati istrinya saat bermimpi sedang berhadapan dengan perampok di rumahnya. Hal serupa terjadi pada seorang gadis 16 tahun dari Kentucky, AS, yang dalam mimpi buruknya melihat beberapa penjahat masuk ke rumahnya. Ia segera bertindak dengan mengambil senapan berburu milik ayahnya untuk menembak para penjahat. Tapi tindakan itu berakibat fatal. Ayah dan adik laki-lakinya tewas, sementara ibunya luka parah.Ada lagi kisah getir yang mirip naskah cerita film. Seorang detektif polisi terpaksa menyela liburannya di tepi pantai untuk membantu petugas hukum lokal menyelidiki kasus penembakan yang tampaknya tanpa motif. Penembakan itu sendiri terjadi di dekat penginapan sang detektif. Di TKP (tempat kejadian perkara) ia menemukan jejak kaki yang satu jarinya hilang .... Seketika ia gemetar, diakah pelakunya? Mungkinkah ia melakukan semua itu dalam tidur saat bermimpi menangkap penjahat, yang memang sering ia alami?Yang perlu dilakukan kemudian oleh para penyidik, bagaimana membuktikan bahwa si pelaku beraksi dengan sadar. Sebab, bisa saja setiap pelaku tindak kejahatan berkilah, "Saya sedang tidur! Saya tidak sadar saat melakukannya!"Menurut dr. Meir Kryger, pimpinan Klinik Penyimpangan Tidur di Winnipeg, Kanada, "Dalam kasus penyimpangan tidur sejati, si pelaku memang tidak dapat bertanggung jawab atas tindakannya. Namun, meski bebas dari tuntutan, ia tidak boleh dibiarkan bebas berkeliaran sampai perilaku menyimpangnya sembuh."Lebih membingungkan lagi, psikiater dan ahli saraf tidak menemukan bukti adanya kelainan mental pada kasus-kasus kriminal semacam ini.Tidur langsung lumpuhSampai sekarang pun banyak aspek dalam tidur yang belum benar-benar terungkap. Salah satunya paralysis nocturna alias ketindihan, atau orang Sunda bilang eureup-eureup. Pada kondisi ini selama beberapa detik penderita merasa ditindih sesuatu, sehingga tidak bisa bergerak atau bernapas.Penjelasan mengenai kasus ketindihan itu bisa beragam. Dari sudut pandang tradisional, Sunda misalnya, penyebabnya adalah laba-laba berjumlah kaki ganjil yang juga menempati kamar tidur pelaku. Sedangkan di Newfoundland kasus itu dikatakan akibat pekerjaan usil tukang sihir.Kemudian ada peneliti yang mencoba memberikan penjelasan yang lebih masuk akal. Ketindihan itu merupakan kelumpuhan tidur non-REM.Pada kondisi REM secara otomatis tubuh akan menonaktifkan seluruh otot tubuh demi keamanan. Bila tidak, bisa-bisa kita melakukan apa pun yang muncul dalam mimpi, persis seperti pengidap penyimpangan perilaku tidur fase REM. Biasanya, otot kembali aktif saat bangun tidur - sayangnya, kadang-kadang terlambat. Keterlambatan ini begitu singkat sehingga kita tidak menyadari atau mengamatinya. Namun, bila keterlambatan itu berlangsung cukup lama, lebih dari semenit, alarm kesadaran keburu memberi tahu bahwa kita tidak dapat bergerak.Sedangkan mengenai sensasi dada tertindih, sebuah teori menghubungkannya dengan refleks menyelam - kemampuan mamalia air untuk memperlambat napas dan denyut jantung agar dapat menyelam lebih lama. Diduga, dahulu kala manusia pernah memiliki kemampuan ini, sehingga meski lewat evolusi manusia telah kehilangan kemampuan ini, sisa-sisanya masih tertinggal dalam kode genetik manusia sekarang.Dengan asumsi itu, diperkirakan refleks menyelam ini sewaktu-waktu muncul dalam kondisi tidur pulas tanpa mimpi. Manifestasinya, sistem pendukung perlindungan tubuh ditekan, sehingga mengakibatkan terjadinya sensasi ketindihan dan kesulitan bernapas - ditambah rasa takut dan panik. Mungkin ini serupa dengan efek yang menyertai serangan jantung.Refleks menyelam itu juga diduga sebagai penyebab sindrom kematian mendadak pada bayi, dan pemicu sentakan myoclonik; tiba-tiba terjaga seketika dari tidur lelap karena merasa tersandung atau terpeleset. Sesungguhnya, sentakan ini disebabkan oleh arus listrik besar yang dikirim oleh otak ke otot sebagai bagian dari mekanisme penyelamatan diri. Otak mengejutkan tubuh agar kembali beraksi normal, karena pernapasan dan peredaran darah terlalu lambat. Datangnya sang "tamu"Penyimpangan tidur selama REM pun menunjuk pada situasi si pelaku merasa didatangi "tamu". Beberapa ilmuwan mencoba menyelidiki perasaan "ditemani" itu. Menurut ahli saraf Michael Persinger, kondisi itu serupa dengan kesadaran akan keberadaan kita sendiri, yang informasinya tersimpan di belahan otak kiri. Untuk menjawab rasa ingin tahunya, Persinger mengadakan percobaan dengan merangsang belahan otak kanan dengan sensasi tertentu. Hasilnya, "Muncul perasaan akan kehadiran seseorang pada jarak yang terlampau dekat, sehingga terasa menakutkan." Kemampuan untuk merasakan halusinasi ini makin besar, bila interaksi antara belahan otak kiri dan kanan makin besar. Hal ini banyak terjadi pada orang yang karena cedera pada otaknya menyebabkan hilangnya bagian pemisah antara dua belahan otak itu. Terbukti 80% pasien Persinger yang mengalami cedera sejenis merasakan situasi demikian. "Mereka mengira sudah mulai gila, padahal itu proses normal bila input tipe tertentu dari belahan otak kanan tak lagi seeksklusif belahan otak kiri."Dulu, di kalangan masyarakat Eropa, ada yang menghubungkan ketindihan dengan peran Succubus dan Incubus, roh jahat penggoda cinta. Di malam hari, katanya, roh itu akan mendatangi korban di tempat tidur, menduduki dadanya sehingga korban merasa sesak napas, lalu mengajak bercinta. Tak heran bila ketindihan dinamai juga mimpi buruk Incubus.Yang menjadi pertanyaan, apakah Succubus dan Incubus itu benar ada? Sebaliknya, apakah ketindihan itu sekadar dipicu oleh mimpi buruk? Penulis Colin dan Damon Wilson berhasil melacak beberapa orang, salah satunya psikolog Stan Gooch. Gooch menyebut "tamu"-nya sebagai Succubus yang penampilannya merupakan kombinasi beberapa wanita kenalannya. Ia bersikukuh dalam keadaan sadar saat digoda Succubus, meski ia juga tidak menolak pendapat bahwa Succubus adalah hasil kreasi alam pikirannya sendiri.Dalam bukunya, Gooch mengutip beberapa orang yang meski dihipnotis tetap mampu menyentuh, melihat, bahkan mendengar sesuai dengan perintah penghipnotis. Halusinasi buatan tidak terbatas pada pendengaran dan penglihatan. Di panggung hipnotis misalnya, sering terlihat seorang penghipnotis membujuk orang untuk meyakini bahwa yang dicicipinya adalah apel yang lezat, padahal itu bawang. Halusinasi taktil atau berkaitan dengan indera peraba pun bisa muncul. Jadi, bukannya tak mungkin, kemunculannya terjadi secara spontan.Succubus dan Incubus memang sangat mungkin buah pikiran saat tidur. Teknisnya, pengalaman nyata sehari-hari adalah masukan yang diterima dari indera kemudian diolah oleh otak. Demikian juga mimpi, bedanya tanpa terlebih dahulu mendapat masukan dari indera.Dalam percobaannya peneliti tidur Steven LaBerge menunjukkan, respons otak dan tubuh saat melakukan pelbagai kegiatan - mulai dari memecahkan soal matematika hingga bercinta - di dalam mimpi dibandingkan dengan di alam sadar, ternyata hanya sedikit bedanya. LaBerge terkenal karena penelitiannya terhadap fenomena mimpi sadar. Pada kondisi mimpi sadar, pelaku tidur tetap dalam keadaan sadar dan bisa melakukan apa pun yang disukainya. Bedanya, di alam mimpi sadar semua terlihat aneh dan lebih indah. Bayangkan, si pelaku merasa mampu melakukan semua yang tidak mungkin terjadi di alam nyata, terbang misalnya. Mimpi sadar sendiri diperkenalkan pertama kali oleh psikiater Belanda Frederik van Eeden, pada 1913. Dalam survai, lebih dari separuh respondennya melaporkan pernah mendapatkan mimpi itu; malah sekitar 10% mengalaminya secara teratur. Pernah ada yang berteori bahwa mimpi sadar terjadi dalam episode terjaga singkat, yang pada banyak orang berlangsung lima kali sepanjang malam. Saking singkatnya, ia tidak ingat lagi saat terjaga di esok paginya. Artinya, mimpi sadar lebih mirip lamunan, atau lanjutan mimpi. Hanya saja, karena masih terlalu bingung, yang bersangkutan tidak menyadari bahwa sedang terjaga. Ini sebenarnya sesuai dengan pendapat peneliti tidur aliran tradisional, bahwa dalam keadaan sadar orang tidak bermimpi. Istilah mimpi sadar kemudian dimasukkan dalam kategori paradoks.Namun LaBerge membuktikan bahwa mimpi dalam keadaan sadar memang ada. Percobaan yang ia lakukan membuktikan, dalam kondisi terkontrol, ia mampu berkomunikasi dengan subjek penelitiannya dengan menggunakan sinyal gerakan mata. Artinya, subjek dalam keadaan sadar dan terjaga, sementara mesin monitor fungsi tubuh menunjukkan mereka berada tahap tidur REM.LaBerge yakin, mimpi sadar bermanfaat bagi jiwa manusia, karena dalam mimpi itu ia dapat meraih semua keinginannya. LaBerge juga menunjukkan, mimpi sadar bisa menghibur, seperti permainan virtual reality yang dipertunjukkan oleh komputer terbaik di dunia: otak manusia.Terhadap karya LaBerge tahun 1992 itu Skeptical Inquirer, jurnal CSICOP - komisi yang melakukan penyelidikan ilmiah terhadap klaim-klaim paranormal - menyatakan, metode yang digunakan LaBerge sangat cermat, sehingga mendorong orang terus memikirkan apakah sifat-sifat alam sadar ... dan apakah sifat-sifat alam imajinasi? Roh jahat atau dorongan terpendam?Dalam penelitian terhadap Incubus dan Succubus, Colin dan Damon Wilson menemukan sejumlah kasus di mana "kehadiran" itu terasa mengganggu, bahkan menyakitkan, seperti yang dirasakan Marcia.Kisahnya bermula ketika Marcia yang master psikologi dari AS itu tengah berlibur di Sao Paulo. Karena tidak percaya takhayul, ia membawa pulang patung kapur kecil berujud Dewi Laut Yamanja yang ditinggalkan orang di pantai sebagai persembahan upacara. Padahal bibinya telah memperingatkan. Tak lama kemudian, Marcia jatuh sakit, dan dua kali hampir tak terselamatkan dari kecelakaan di rumah: meledaknya pressure cooker dan oven. Yang paling aneh, ia mengaku saat terbaring di tempat tidur, berkali-kali merasakan ada orang (atau sesuatu) masuk ke kamarnya, naik ke tempat tidur dan ... memperkosanya! Serangan-serangan itu baru berhenti setelah bibinya berkonsultasi dengan ahli Umbanda - semacam voodoo - dan mengembalikan patung itu ke pantai.Yang tak kalah aneh adalah serangan terhadap sejumlah gadis penghuni sekolah asrama di Rietfontein, Botswana, pada 1985. Mereka melaporkan, beberapa sosok laki-laki dan perempuan telah mengoyakkan pakaian, memotongi rambut, dan mencakari mereka.Pemeriksaan kesehatan bahkan mengungkap adanya sejumlah jarum yang tertanam cukup dalam di bawah luka pada kaki para korban. Sementara serangan terus berlanjut, polisi tidak mampu menemukan pelaku ataupun penjelasan. Apakah ini kasus roh-roh gentayangan yang nakal (poltergeist)?Namun ilmu pengetahuan percaya, gangguan yang biasanya menimbulkan bunyi ribut, menyebabkan beterbangannya peralatan memasak atau perabot rumah, serta sering menyebabkan luka ringan, bukanlah pekerjaan roh jahat. Justru si korbanlah penyebab semua manifestasi itu. Maka tak aneh bila sering kali kasus poltergeist berakhir begitu korban menjalani terapi kejiwaan.Bukti nyata tampak pada kasus remaja dari Roma, Eleanora Zugun. Peneliti sempat memeriksa luka serupa cakaran atau gigitan yang muncul mendadak di wajah dan lengannya. Luka-luka itu muncul hanya saat Eleanora merasa tersinggung oleh perbuatan atau perkataan orang lain, yang memang sering terjadi. Serangan itu hilang ketika ia beranjak dewasa dan tidak begitu neurotik lagi.Korban poltergeist yang kebanyakan adalah remaja, menurut ahli, berhubungan dengan tertekannya dorongan seksual mereka. Korban dari tiga kasus poltergeist terkenal di AS diketahui tergila-gila pada orang terkenal, di antaranya dengan tokoh polisi di film seri TV Starsky and Hutch. Ini menggugah para teoritis untuk menyelidiki, mungkinkah konsentrasi tinggi energi emosional yang terpendam dapat termanifestasikan dalam bentuk-bentuk yang aneh, yang belum kita pahami?Teori serupa mungkin berlaku pada kemunculan Incubus dan Succubus, yang besar kemungkinan lahir dari pikiran orang juga. Dengan tumbuhnya kedewasaan, bertambah pula kemampuan seseorang untuk mengendalikan dorongan seksual, meskipun saat tidur kontrol itu bisa saja hilang. Tidur tidaklah sesederhana tampaknya. Di balik kelopak mata yang terkatup, tersimpan misteri dunia lain, dunia supranatural. (YUSMADANI.ART / Dsb)
Langganan:
Postingan (Atom)

